BAB II
Rabu, 29 Mei 2013
MAKALAH MANAJEMEN TENTANG MANAJEMEN SUMBER DAYA MANUSIA (PEMBERHENTIAN TENAGA KERJA )
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Masalah
pemberhentian merupakan yang paling sensitive di dalam dunia ketenagakerjaan
dan perlu mendapat perhatian yang serius dari semua pihak, termasuk oleh
manajer sumber daya manusia, karena memerlukan modal atau dana pada waktu
penarikan maupun pada waktu karyawan tersebut berhenti. Pada waktu penarikan
karyawan, pimpinan perusahaan banyak mengeluarkan dana untuk pembayaran
kompensasi dan pengembangan karyawan, sehingga karyawan tersebut betul-betul
merasa ditempatnya sendiri dan mengerahkan tenaganya untuk kepentingan tujuan
dan sasaran perusahaan dan karyawan itu sendiri. Demikian juga pada waktu
karyawan tersebut berhenti atau adanya pemutusan hububungan kerja dengan
perusahaan, perusahaan mengeluarkan dana untuk pension atau pesangon atau
tunjangan lain yang berkaitan dengan pemberhentian, sekaligus memprogramkan
kembali penarikan karyawan baru yang sama halnya seperti dahulu harus
mengeluarkan dana untuk kompensasi dan pengembangan karyawan.
Di
samping masalah dana yang mendapat perhatian, juga yang tak kurang pentingnya
adalah sebab musabab karyawan itu berhenti atau diberhentikan. Berbagai alas an
atau sebab karyawan itu berhenti, ada yang didasarkan permentiaan sendiri, tapi
ada jug aatas alas an karena peraturan yang sudah tidak memungkinkan lagi karyawan
tersebut meneruskan pekerjaannya.
Akibatnya
dari pemberhentian berpengaruh besar terhadap pengusaha maupun karyawan. Untuk
karyawan dengan diberhentikannya dari perusahaan atau berhenti dari pekerjaan,
berarti karyawan tersebut tidak dapat lagi memenuhi kebutuhan secara maksimal
untuk karyawan dan keluarganya. Atas dasar tersebut, maka manajer sumber daya
manusia harus sudah dapat memperhitungkan berapa jumlah uang yang seharusnya
diterima oleh karyawan yang berhenti, agar karyawan tersebut dapat memenuhi
kebutuhannya sampao pada tingkat dapat dianggap cukup.
1.2 Indentifikasi
Masalah
Berdasarkan
latar belakang yang ada dan untuk mengetahui gambaran yang lebih jelas, maka
penulis mencoba mengidentifikasi masalah-masalah sebagai berikut:
1.
Apa alasan perusahaan memberhentikan karyawan dari pekerjaannya?
2.
Bagaimana proses pemberhentian karyawan?
3.
Apa pengaruh Pemberhentian karyawan terhadap perusahaan?
1.3 Maksud dan
Tujuan
Maksud
dibuatnya makalah ini adalah untuk mengetahui bagaimana pengaruh pemberhentian
karyawan terhadap perusahaan. Sedangkan tujuan dibuatnya makalah ini adalah
memenuhi salah satu tugas Maka Kuliah Seminar Manajemen Sumber Daya Manusia.
BAB II
LANDASAN TEORI
2.1 Pengertian
Manajemen Sumber Daya Manusia
Sebelum
memberikan pengertian tentang Manajemen Sumber Daya Manusia alangkah baiknya
apabila diketahui terlebih dahulu pengertian Manajemen dan Sumber Daya Manusia
itu sendiri. Dalam pendapat beberapa ahli, Manajemen diartikan sebagai ilmu dan
seni yang mengatur proses pemanfaatan sumber daya manusia dan sumber daya
lainnya secara efektif dan efisien untuk mencapai tujuan tertentu.
Sumber
daya adalah segala sesuatu yang merupakan assets perusahaan untuk mencapai
tujuannya.
Sumber
daya yang dimiliki perusahaan dapat dikategorikan atas empat tipa sumber daya,
seperti Finansial, Fisik, Manuisa dan Kemampuan Teknologi.
Hal
ini penting untuk diketahui, karena akan bias membedakan dengan pengertian yang
sama dengan pengertian manajemen sumber daya manusia, yaitu administrasi
kepegawaian atau juga manajemen kepegawaian.
Berikut
ini adalah pengertian Manajemen Sumber Daya Manusia (MSDM) menurut para ahli:
1.
Menurut Melayu SP. Hasibuan.
MSDM
adalah ilmu dan seni mengatur hubungan dan peranan tenaga kerja agar efektif
dan efisien membantu terwujudnya tujuan perusahaan, karyawan dan masyarakat.
2.
Menurut Henry Simamora
MSDM
adalah sebagai pendayagunaan, pengembangan, penilaian, pemberian balasan jasa
dan pengelolaan terhadap individu anggota organisasi atau kelompok bekerja.
MSDM
juga menyangkut desain dan implementasi system perencanaan, penyusunan
personalia, pengembangan karyawan, pengeloaan karir, evaluasi kerja, kompensasi
karyawan dan hubungan perburuhan yang mulus.
3.
Menurut Achmad S. Rucky
MSDM
adalah penerapan secara tepat dan efektif dalam proses akusis, pendayagunaan,
pengemebangan dan pemeliharaan personil yang dimiliki sebuah organisasi secara
efektif untuk mencapai tingkat pendayagunaan sumber daya manusia yang optimal
oleh organisasi tersebut dalam mencapai tujuan-tujuannya.
4.
Menurut Mutiara S. Panggabean
MSDM
adalah proses yang terdiri dari perencanaan, pengorganisasian, pimpinan dan
pengendalian kegiatan-kegiatan yang berkaitan dengan analisis pekerjaan,
evaluasi pekerjaan, pengadaan, pengembngan, kompensasi, promosi dan pemutusan
hubungan kerja guna mencapai tujuan yang telah ditetapkan.
Dari
definisi di atas, menurut Mutiara S. Panggabaean bahwa, kegiatan di bidang
sumber daya manusia dapat dilihat dari dua sudut pandang, yaitu dari sisi pekerjaan
dan dari sisi pekerja.
Dari
sisi pekerjaan terdiri dari analisis dan evaluasi pekerjaan. Sedangkan dari
sisi pekerja meliputi kegiatan-kegiatan pengadaan tenaga kerja, penilaian
prestasi kerja, pelatihan dan pengembangan, promosi, kompensasi dan pemutusan
hubungan kerja.
Dengan
definisi di atas yang dikemukakan oleh para ahli tersebut menunjukan demikian
pentingnya manajemen sumber daya manusia di dalam mencapai tujuan perusahaan,
karyawan dan masyarakat.
2.2 Model Manajemen
Sumber Daya Manusia
Di
dalam memahami berbagai permasalahan pada manajelen sumber daya manusia dan
sekaligus dapat menentukan cara pemecahannya perlu diketahui lebih dahulu
model-model yang digunakan oleh perusahaan kecil tidak bias menerapkan model
yang biasa digunakan oleh perusahaan besar. Demikian pula sebaliknya. Dalam
perkembangan model-model ini berkembang sesuai dengan situasi dan kondisi serta
tuntutannya.
Untuk
menyusun berbagai aktifitas manajemen sumber daya manusia ada 6 (enam) model
manajemen sumber daya manusia yaitu:
1.
Model Klerikal
Dalam
model ini fungsi departemen sumber daya manusia yang terutama adalah memperoleh
dan memelihara laporan, data, catatan-catatan dan melaksanakan tugas-tugas
rutin. Fungsi departemen sumber daya manusia menangani kertas kerja yang dibutuhkan,
memenuhi berbagai peraturan dan melaksanakan tugas-tugas kepegawaian rutin.
2.
Model Hukum
Dalam
model ini, operasi sumber daya manusia memperoleh kekutannya dari keahlian di
bidang hukum. Aspek hukum memiliki sejarah panjang yang berawal dari hubungan
perburuhan, di masa negosiasi kontrak, pengawasan dan kepatuhan merupakan
fungsi pokok disebabkan adanya hubungan yang sering bertentangan antara manajer
dengan karyawan.
3.
Model Finansial
Aspek
pinansial manajemen sumber daya manusia belakangna ini semakin berkembang
karena para manajer semakin sadar akan pengaruh yang besar dari sumber daya
manusia ini meliputi biaya kompensasi tidak langsung seperti biaya asuransi
kesehatan, pension, asuransi jiwa, liburan dan sebagainya, kebutuhan akan keahlian
dalam mengelola bidang yang semakin komplek ini merupakan penyebab utama
mengapa para manajer sumber daya manusia semakin meningkat.
4.
Model Manjerial
Model
manajerial ini memiliki dua versi yaitu versi pertama manajer sumber daya
manusia memahami kerangka acuan kerja manajer lini yang berorientasi pada
produktivitas. Versi kedua manajer ini melaksanakan beberpa fungsi sumber daya
manusia.
Departemen
sumber daya manusia melatih manajer lini jdalam keahlian yang diperlukan untuk
menangani fungsi-fungsi kunci sumber daya manusia seperti pengangkatan,
evaluasi kinerja dan pengembangan. Karena karyawan pada umumnya lebih senang
berinteraksi dengan manajer mereka sendiri disbanding dengan pegawai staf, maka
beberapa departemen sumber daya manusia dapat menunjukan manajer lini untuk
berperan sebagai pelatih dan fsilitator.
5.
Model Humanistik
Ide
sentral dalam model ini adalah bahwa, departemen sumber daya manusia dibentuk
untuk mengembangkan dan membantu perkembangan nilai dan potensi sumber daya
manusia di dalam organisasi. Spesialis sumber daya manusia harus memahami
individu karyawan dan membantunya memaksimalkan pengembangan diri dan
peningkatan karir.
Model
ini menggabarkan tumbuhnya perhatian organisasi terhadap pelatihan dan
pengembangan karyawan mereka.
6.
Model Ilmu Perilaku
Model
ini menganggap bahwa, ilmu perilaku seperti psikologi dan perilaku organisasi
merupakan dasar aktivitas sumber daya manusia. Prinsipnya adlah bahwa sebuah
pendekatan sains terhadap perilaku manusia dapa diterpkan pada hampir semua
permasalahan sumber daya manusia bidang sumber daya manusias yang didasarkan
pada prinsip sains meliputi teknik umpan balik, evaluasi, desain program dan
tujuan pelatihan serta manajemen karir.
2.3 Fungsi-fungsi
Manajemen Sumber Daya Manusia
Fungsi
manajemen sumber daya manusia sama halnya dengan fungsi yang ada dalam
manajemen sendiri, seperti apa yang dikemukakan G. Terry dalam bukunya
Principle of Management yang menyatakan bahwa, fungsi manajemen meliputi
Planning, Organizing, Actuating dan Controlling (POAC).
Henry
Fayol menyebutkan bahwa, fungsi manajemen meliputi Planning, Organizing,
Commanding, Coordinating dan Controllung (POCCC).
Luther
Gulick mengemukakan fungsi manajemen meliputi Planning, Organizing, Staffing,
Directing, Coordinating, Reporting dan Budgeting (POSDCoRB).
Dalam
manajemen sumber daya manusia beberapa ahli seperti Edwin B. Flippo, Dale
Yoder, Manullang, Moekijat dan Malayu SP. Hasibuan serta Henry Simamora
mengemukakan fungsi manajemen sumber daya manusia seperti halnya fungsi
manajemen yang dikemukakan di atas, adalah sebagai berikut:
1.
Perencanaan
2.
Rekrutmen
3.
Seleksi
4.
Dekrutmen
5.
Orientasi, Pelatihan dan Pengembangan
6.
Evalauasi Kinerja
7.
Komensasi
8.
Pengintegrasian
9.
Pemeliharaan
10.
Pemberhentian.
Minggu, 21 April 2013
PERAN FUNGSI MAHASISWA
MAHASISWA pada saat ini merupakan harapan terbesar bagi
masyarakat sebagai penyambung lidah rakyat terutama sebagai perubahan di
masyarakat (Agen social of cahange), pengontrol setiap kebijakan yang dbuat oleh penguasa (Agen of Control). Sebagai salah satu potensi,
mahasiswa sebagai bagian dari kaum muda dalam tatanan masyarakat yang mau tidak
mau pasti terlibat langsung dalam tiap fenomena sosial, harus mampu
mengimplementasikan kemampuan keilmuannya dalam akselerasi perubahan keumatan
ke arah berkeadaban.
Keterlibatan mahasiswa dalam setiap perubahan tatanan
kenegaraan selama ini sudah menjadi jargon dan pilar utama terjaminnya sebuah
tatanan kenegaraan yang demokratis. Romantisme politis antara mahasiswa dengan
rakyat terlihat sebagai fungsinya sebagai social control termasuk
terhadap kebijakan menindas.
Mahasiswa dalam hal ini sudah menunjukkan diri sebagai salah
satu potensi yang dapat diandalkan dalam upaya menuju tatanan masyarakat yang
berkeadilan. Dan distribusinya baik secara kualitas maupun kuantitas dalam
segala aspek kehidupan sosial sudah semestinya diperhitungkan.
Bentuk keberhasilan dalam mewujudkan sebuah tatanan
masyarakat berkeadaban di Indonesia adalah dengan semakin kecilnya angka
kemiskinan, pengangguran, kriminalitas, peningkatan taraf ekonomi dan
pendidikan, dan lain sebagainya. Namun, itu semua hanya akan menjadi mimpi
belaka manakala semua konsep-konsep yang dibangun dan berbasis kerakyatan
tersebut tidak dibarengi dengan strategi yang matang dan jitu ke arah tujuan
tersebut. Dan maksimalisasi fungsi mahasiswa dan kaum muda dalam tiap laju
demokratisasi merupakan salah satu pilar utama yang perlu diperhatikan.
Sekali lagi, peran mahasiswa sebagai bagian dari masyarakat
sosial ditunggu. Dengan ke independensian nya diharapkan mahasiswa mampu memainkan peran yang strategis.
Kesatuan visi, tekad, dan perjuangan untuk kepentingan masyarakat secara luas,
menjadi pondasi utama peran tersebut saat ini atau nanti. Namun, untuk
mewujudkan hal tersebut, sekali lagi, perlu pemetaan, perumusan, dan penelaahan
metode penerapan fungsi mahasiswa dalam kancah epistemologi keumatan tersebut.
Realitas di Lapangan
Pasca gerakan reformasi 1997/1998 hingga saat ini terjadi neorosis
masa yang cukup signifikan, aksi-aksi mahasiswa terkesan kehilangan comon
enemy (musuh bersama). Solidaritas gerakan mahasiswa semakin mencair ke
dalam ke-akuan masing-masing. Kampusku, organisasiku, idiologiku, dan
keaku-akuan yang lain. Meskipun tidak bisa dipungkiri masih ada beberapa
organisasi yang tetap konsisten menjadi corong kepentingan rakyat dengan tetap
melakukan aksi-aski turun ke jalan.
Ironisnya, mencairnya gerakan mahasiwa ke dalam internal
kampus tidak menjadikan organisasi mahasiswa dapat tumbuh dan berkembang
menjadi kekuatan social society dan memiliki bargaining posisioning
dalam mensikapi kebijakan-kebijakan biokrasi kampus dan mengakomodir aspirasi
dan menjadi juru bicara mahasiswa.
Kondisi semacam ini semakin diperparah lagi dengan tingkah
pola segelintir Mahasiswa yang meng-klaim dirinya sebagai “aktivis kampus” yang
justru menjurus kepada pembenaran atas kecendrungan analisa negatif sebagai
Mahasiswa lainnya tersebut. Bahkan, sebagian di antaranya cendrung “arogan”,
merasa paling intelek dengan tidak menghiraukan keberadaan lingkungan
sekitarnya.
“Aktivis Kampus” seperti ini kerap berbicara soal Demokrasi,
tapi di saat itu juga cendrung “Otoriter”, memaksakan kehendak dan tidak bisa
menerima perbedaan dan pendapat yang lain. Membahas “revolusi”, tapi tidak
diimbangi dengn revolusi akhlak dalam dirinya yang masih jauh dari
nilai-nilai fitri. Berdebat tentang Konsep Ketuhanan namun tak nampak
“sifat-sifat” Tuhan dalam dirinya, seperti rahman, Rahim. Maka kalau
kondisi ini terus dibiarkan, maka tidaklah heran organisasi mahasiswa mengalami
degradasi dan deteroiorasi dalam skala aksi maupun subtansi. Dan hal inilah
yang pada akhirnya menyebabkan kaderisasi menurun drastis baik kualitas maupun
kuantitas.
Kondisi objektif di atas bergulir bagaikan bola salju yang
kian membesar dan sulit dicairkan, sehingga memunculkan kelompok mahasiswa
terbagi sebagai berikut:
- Kelompok Mahasiswa Kupu-kupu (kuliah pulang-kuliah pulang). Tipikal dari individu atau kelompok mahasiswa ini dominan melewai hari-harinya di kampus full hanya dengan belajar “Teks Book”, mengerjakan semua yang diperintahkan setiap dosen (baca: dosen) dengan harapan kuliah dapat selesai tepat waktu dan meraih prestasi akademik yang memuaskan sehingga dapat menjadi dongkrak untuk peningkatan karier. Ciri khas utama kelompok ini adalah Indeks Prestasi Komulitatif (IPK) minded, cendrung eksklusif dan skeptis-apatis terhadap apa pun bentuk aktivitas organisasi mahasiswa, senantiasa berpikir “neraca rugi-laba”, saat diajak ber-organisasi bahkan cendrung subjektif dalam peniliaiannya tentang aktivitas kampus.
- Kelompok Mahasiswa Cheerleader. Kelompok atau tipikal individu semacam ini mempunyai beberapa ciri, di antaranya senang meramaikan atau ikut menyemarakkan beberapa kegiatan yang ada di kampus maupun organisasi mahasiswa. Namun, masih “alergi” jika suatu ketika dipercaya untuk mengemban amanah kepemimpinan ataupun kepengurusan dalam sebuah event dan kegiatan sosial keorganisasian. Bagi mahasiswa model ini, berkelompok dan berorganisasi haruslah ada muatan “pesta”, bersenang-senang, sekadar pergaulan dan cendrung tidak mempunyai pendirian yang pasti terhadap pendapat-pendapat yang beredar mengelilingi lingkungan sekitarnya. Siapa yang dekat-akrab, mereka-lah kawan “organisasinya.”
- Kelompok Mahasiswa Aktif dengan Organisasinya. Kelompok atau individu dari mahasiswa semacam ini tidak begitu dominan keberadaannya. Secara kuantitatif relatif sedikit, sedangkan dari segi kualitas masih harus dikaji ulang. Eksistensi kelompok atau individu bertipikal semacam ini sepintas aktif dengan segenap organisasi kemahasiwaan yang ada baik yang intra maupun eksra kampus. Bahkan, dari yang sedikit jumlahnya di sini, sebagian di antaranya cendurng “kebablasan”, sehingga ada juga secara tidak sadar melepas statusnya sebagai mahasiswa lantaran “kris moneter” dalam dirinya D-O (baca Drop Out). Ada juga sebagian diri mereka yang “kehabisan napas” kerena ketidakmampuan me-manage waktu yang dimilikinya, sehingga vacum bahkan berubah menjadi apatis terhadap organisasi mahasiswa.
Merubah Paradigma Berpikir
Mahasiswa yang aktif ber-organisasi secara konsisten
semata-mata memiliki pemahaman bahwa organisasi kemahasiswaan merupakan sebuah
sarana yang efektif dalam meng-kader dirinya sendiri untuk ke depan.
Sebagian di antaranya masih mempunyai keyakinan pandangan bahwa kampus
merupakan tempat menimba ilmu yang tidak terbatas hanya kepada pelajaran
semata.
Dengan bergabung aktif dalam organisasi kemahasiswaan yang
bersifat intra ataupun eksra kampus berefek kepada perubahan yang
signifikan terhadap wawasan, cara berpikir, pengetahuan dan ilmu-ilmu
sosialisasi, kepemimpinan serta menajemen kepemimpinan yang notabene tidak
diajarkan dalam kurikulum normatif Perguruan Tinggi. Namun, dalam
ber-organisasilah dapat diraih dengan memanfaatkan statusnya sebagai mahasiswa.
Pemahaman arti penting sebuah organisasi dan aktivitas
organisasi mahasiswa adalah salah satu persoalan yang pertama-tama harus
diluruskan. Adanya anggapan bahwa ber-organisasi berarti berdemonstrasi, atau
ber-organisasi khusunya di kampus tidak lebih dari sekadar membuang sebagian
waktu, energi, ajang mencari kawan atau mencari jodoh merupakan bukti adanya
kesalapahaman tentang presepsi sebagian mahasiswa tentang organisasinya
sendiri.
Berdasarkan hal tersebut maka organsiasi mahasiswa dituntut
untuk terus meningkatan kualiatas dirinya. Dan peningkatan pelayanan terhadap
masyarakat mahasiswa. Sebagai miniatur pemerintahan negara dalam
penyelenggaraan negara yang semestinya dilakukan oleh aparatur negara. Maka,
organisasi mahasiwa harus meng-adopsi prinsip-prinsip pemerintahan layaknya
dalam sebuah negara dan dikolaborasikan dengan prinsip sebagai organisasi
pengkaderan dan perjuangan.
Dengan demikian, satu media yang dapat membentuk kematangan
mahasiswa dalam hidup bermasyarakat ialah organisasi. Dengan senantiasa
ber-organisasi maka mahasiswa akan senantiasa terus berinteraksi dan
beraktualisasi, sehingga menjadi pribadi yang kreatif serta dinamis dan lebih
bijaksana dalam persoalan yang mereka hadapi. dan lebih kritis dalam menangkap setiap fenomena sosial yang terjadi
Minggu, 31 Maret 2013
malam yang dingin
tetesan embun
siapa yang buat
siapa yang menjatuhkan
sungguh ku tak mengerti
entah kapan dan dimana ku berada
malam ini sendiri dan terasingkan oleh zaman
ku termenung mengenang semua
semua impian manis yang masih kelam
malam tak menyapa
walau aku duduk termenung disini
disudut gelapnya
oh malam,dekaplah aku
jangan kau biarkan diri ini terhempas lebih dalam
aku disini menunggu mu,jangan kau terus mengabaikan semua mimpi
karna cuma kamu teman yang setia disetiap mimpi-mimpiku
siapa yang buat
siapa yang menjatuhkan
sungguh ku tak mengerti
entah kapan dan dimana ku berada
malam ini sendiri dan terasingkan oleh zaman
ku termenung mengenang semua
semua impian manis yang masih kelam
malam tak menyapa
walau aku duduk termenung disini
disudut gelapnya
oh malam,dekaplah aku
jangan kau biarkan diri ini terhempas lebih dalam
aku disini menunggu mu,jangan kau terus mengabaikan semua mimpi
karna cuma kamu teman yang setia disetiap mimpi-mimpiku
Langganan:
Komentar (Atom)