#gambar { float: left; margin: 10px; overflow: hidden; position: relative; } .ket { width: 80%; height: auto; text-align: left; padding: 5px 10px; background: #000; opacity: 0.6; color: #fff; line-height: 18px; font-size: 12px; font-family: Arial, Helvetica, sans-serif; -webkit-border-radius: 0x 25px 0px 0px; -moz-border-radius: 0px 25px 0px 0px; -o-border-radius: 0px 25px 0px 0px; border-radius: 0px 25px 0px 0px; } #gambar .ket { position: absolute; bottom: 0; left: 0; margin-bottom: -300px; -webkit-transition: all 1s ease-out; -moz-transition: all 1s ease-out; -o-transition: all 1s ease-out; transition: all 1s ease-out; } #gambar:hover { -webkit-box-shadow:0px 0px 25px #000000; -moz-box-shadow:0px 0px 25px #000000; -o-box-shadow:0px 0px 25px #000000; box-shadow:0px 0px 25px #000000; } #gambar:hover .ket { margin-bottom: 0px; }

Selasa, 23 Juni 2015

AMANAT UNTUK SEBUAH CINTA


      Sakti anak yang periang dan lucu yang masih duduk di kelas 6 SD dan ia tinggal di Jakarta Timur. Sakti  yang sedikit nakal dan suka jail pada temannya, kakak kelasnya, kepada adik kelasnya, bahkan guru sekalipun sering kena ulah nya. Tetapi hal itu tidak membuat orang-orang yang di sekitarnya membencinya, melainkan suka dan gemes melihatnya, namun kadang-kadang juga jengkel padanya.
            Sakti banyak disukai teman-temannya, terutama teman perempuan dan kakak kelas perempuannya, karena wajahnya yang lucu juga menggemaskan dan tingkahnya yang kadang-kadang membuat orang ketawa.
            Sakti di sekolah mempunyai lima sahabat dekat yaitu Vino, Andi, Zibran,Aldi dan Dani yang selalu bersama. Di sekolah, Sakti selalu menunjukan tingkahnya yang lucu dan tidak wajar dan suka berkata yang biasa membuat orang lain ketawa, namun kadang membuat orang jengkel dan marah. Kelima teman Sakti selalu mendukung apa yang dilakukan oleh Sakti karena mereka dari sejak kecil  hidup selalu bersama.
            Suatu hari Sakti asyik jail dengan teman-temannya sampai-sampai  semua teman di  kelasnya kena ulah Sakti, karena kursi tempat duduknya ditaburi serbuk yang bisa membuat orang gatal walaupun memakai pakaian dan dengan sepintas serbuk itu tidak terlihat, dan mereka menempelkan premen karet pada bagian bawah meja yang mengenai kaki, tidak ketinggalan kursi dan meja guru pun di samakan dengan meja teman-temannya, bahkan papan tulis  di curat coret dengan spidol permanen dan setelah itu spidol dan penghapusnya semua disembunyikan.
            Beberapa waktu kemudian teman-teman nya merasakan keanehan dan semua menggaruk-garuk pantatnya, dan supaya tidak dicurigai teman-temannya Sakti dan teman-temannya ikut menggaruk-garuk sambil senyam-senyum. Lalu Bapak Guru pun masuk ke kelas itu, dan melihat anak-anak semua mengaruk-garuk pantat, namun Bapak Guru menghiraukannya, dan melihat papan tulis yang kotor Bapak guru pun menyuruh siswa menghapusnya, sesudah Bapak guru berbicara dengan cepat Sakti kedepan untuk menghapusnya, padahal Sakti lah yang melakukannya. Sudah lima menit lamanya Sakti menghapus, Bapak guru heran kenapa Sakti tidak kembali ke bangkunya, tapi setelah dilihat ternyata  papan tulis nya tidak bisa dihapus dan ditambah Suasana yang tambah gaduh semua siswa makin asyik menggaruk pantatnya masing-masing bahkan Bapak Guru pun sama mulai merasakan gatal di pantatnya, sampai pulang Suasana masih tetap dan  Bapak guru pun membubarkan mereka.
            Hari esok pun tiba hari itu teman-teman sekelasnya marah pada Sakti dan kelima temannya karena ulahnya kemarin telah di ketahui bahwa mereka lah yang menjadi biang keroknya. Bapak Guru pun mendengar berita bahwa Sakti dan kawan-kawannya lah yang melakukan semua itu. Sakti pun dipanggil bersama teman-temannya ke ruang guru dan ke ruang Kepala Sekolah dan mereka diberi peringatan supaya tidak melakukan hal yang merugikan orang lain lagi, dan apabila itu terjadi mereka akan dipanggil orang tua nya dan akan diskors.
            Sakti pun mendengar peringatan dari Bapak guru, namun hanya dua hari, setelah itu Sakti tetap melakukan hobi jailnya, namun Sakti mengurangi jailnya itu.
            Beberapa tahun kemudian Sakti lulus dari SD dan menghabiskan masa kanak-kanak nya bersama teman-temannya di SD. Sakti sudah memasuki usia remaja tapi ia tetap masih menjalani hobi jailnya itu. Niat  melanjutkan ke SMP pun Sakti sangat semangat dan ia ingin melanjutkan ke SMP yang dekat dengan daerah ia tinggal, dan juga rata-rata teman SD nya melanjutkan ke SMP itu. Namun sayangnya Sakti tidak mendapat ijin dari orang tuanya karena sudah mengetahui kelakuan Sakti yang tidak membaik malah bertambah buruk dan tambah nakal, khawatir Sakti akan mudah terjerumus pada pergaulan yang kurang baik. Disamping itu orang tua Sakti berniat akan menyekolahkan Sakti di kampung halaman Kakek dan Neneknya supaya Sakti belajar mandiri dan belajar agama dan juga belajar membantu Kakek dan Nenek nya agar Sakti menjadi anak yang berbakti pada orang tua dan lebih bisa menghargai sesama terutama pada orang tua. Namun Sakti menolak keinginan orang tuanya karena ia tidak ingin hidup di kampung. Tapi Ibu Sakti tidak pernah putus asa dan terus membujuk anaknya supaya mau menuruti ke inginan kedua orang tua nya. Dan akhirnya Sakti  menuruti perintah ibunya karena itulah hal terbaik untuk kedua orang tuanya dan juga dirinya sendiri dan akan menjadikan dirinya lebih dewasa.
            Satu hari sebelum berangkat ke kampung Kakek dan Neneknya di Kota Tasikmalaya Jawa Barat Sakti meminta maaf kepada teman-temanya, dan menemui kelima sahabatnya, mendengar hal itu sahabat-sahabatnya pun sedih tapi Sakti tidak mau hari perpisahannya diselimuti dengan tangisan sahabatnya, lalu Sakti pun mengajak teman-temanya bermain dan menghabiskan waktu nya yang hanya satu hari lagi Sakti bersama teman-temannya, dan mereka pun bersenang-senang dengan apa yang dilakukannya.
Besok harinya, Sakti pun berangkat ke Kota Tasikmalaya yaitu ke Rumah Kakek dan Neneknya bersama Ayah, Ibu dan Adik perempuannya yang masih Sekolah TK, di perjalanan Sakti dan Keluarga berhenti di Rumah Makan dan Keluarga pun memilih untuk memesan nasi TO(tutug oncom) yaitu makanan khas Tasikmalaya dan Sakti sangat menikmati nasi TO tersebut,karena pertama kalinya ia makan nasi TO. Setelah selesai makan Sakti dan keluarganya pun melanjutkan perjalanannya yang sebentar lagi sampai. Sesampai di Tasikmalaya Sakti dan keluarganya bertemu dengan Kakek dan Neneknya dan disambutlah mereka dengan senang hati dan sudah ditunggu kedatangannya oleh kerabat-kerabatnya yang ada di sana, dan Kakek juga Neneknya sangat senang karena melihat anak dan cucunya datang.
Satu minggu Ayah, Ibu dan Adik Sakti berlibur di sana sambil menemani Sakti mencari Sekolah dan mendaftarkannya.
Satu minggu berlalu, Ayah dan Ibu beserta Adiknya akan kembali ke Jakarta. Hari itu merupakan hari perpisahan dan hari itu hari yang sangat menyedihkan bagi Sakti dan juga keluarga Sakti. Sampai tak sadar di ujung matanya Sakti menetes air mata tidak tahan menahan air mata dan ia memeluk Ayah dan Ibunya, Sakti pun menangis dipelukannya dan mengingat bahwa anak nya masih kecil sudah harus berpisah dengan Ayah dan Ibunya, tapi hal itu untuk kebaikannya. Dan Adiknya pun terus menangisi Sakti karena ia tak ingin berpisah dengan kakaknya, Adik Sakti berbicara pada Ibu nya sambil menangis.
“ Ibu kakak ikut pergi ke Jakarta kan…? Ibu kenapa..? Kenapa ibu dan kakak menangis…? Kakak..? Kakak mau pulang kan?” Tanya Tasya
Dan Sakti pun memeluk Adiknya yang menangisi Sakti.
 “Adiku sayang jangan nangis yah…!! Kakak mau menemani Kakek dan Nenek dulu di sini sebentar kok dik...
Adikku yang cantik jaga Ayah dan Ibu di sana yah !Dan awas kamu jangan nakal yah.”Jawab Sakti, sesudah Sakti berbicara pada Adiknya mobil pun dihidupkan oleh Ayah Sakti dan itu tandanya sudah siap berangkat. Dan berangkat lah Ayah dan Ibu juga Adik Sakti  yang masih menjatuhkan air mata.
            Beberapa bulan kemudian Sakti pun bisa beradaptasi dengan lingkungan di kampung Kakeknya dan dan juga di lingkungan Sekolahnya, Dan Sakti sudah mempunyai  sahabat barunya yaitu Rio teman sekelasnya dan Sinta tetangga Neneknya yang sekolah di sana. Dan merekalah yang selalu  bermain bersama. Di samping bermain dan belajar Sakti tidak lupa dengan tujuan Ayah dan Ibunya untuk belajar, belajar dan belajar. Sekaligus  membantu Kakek dan Neneknya mengolah lading,berkebun dan itu pun selalu dilakukan  dihari minggu dan apabila sekolah libur.
            Setelah tinggal di kampung Neneknya, Sakti menjadi berubah menjadi lebih baik dan suka membantu dan terus belajar dan mempelajari apa yang ia inginkan. Suatu hari Sakti bercerita pada Kakeknya tentang hobinya, Sakti mempunyai dua hobi yaitu musik dengan olahraga. Namun Sakti menginginkan olahraga pencak silat, dan kebetulan kakeknya adalah atlet pencak silat  kabupaten dimasa mudanya. Namun harus berakhir kariernya, karena waktu itu kakek kecelakaan yaitu jatuh dan menyebabkan pergelangan tangan nya patah.
            Disetiap malam sesudah Sakti mengaji di pesantren yang berada di Tasikmalaya karena Kota Tasik adalah kota santri. Sakti selalu membujuk kakeknya supaya ia bisa diberi ilmu pencak silat. Tapi Kakek Sakti hanya memberikan amanat sebelumnya.
 “Sakti, kakek bersedia memberikan ilmu pencak silat tapi jangan dipakai untuk kesombongan  dan harus berhati-hati.”seru Kakek
 “Siap Kek” jawab Sakti dengan penuh kesemangatan.
            Sakti belajar ilmu beladiri dari kakek nya dengan penuh semangat, dan cepat melekat dalam jati dirinya karena merupakan bakat warisan dari sang kakek. Dan Sakti pun semakin mahir dan menguasai jurus-jurus dari kakeknya. Di samping itu Sakti juga menjalankan hobi keduanya yaitu main musik khusus nya gitar dan vokal. Dan Sakti pun terus berlatih vokal dan gitar dengan rajin. Namun ia juga tidak melupakan pencak silat.
            Tak terasa 3 tahun berlalu Sakti akan Perpisahan. Seminggu sebelum perpisahan Sakti mendengar kabar bahwa diacara kenaikan kelas dan perpisahan akan diadakan festival band, Sakti pun semangat karena ia ingin tampil untuk pertama kalinya, karena ia sudah cukup mahir dalam bermain gitar dan bernyanyi dari kursus yang dijalankannya itu, Dan karena ke ahlian dan kemahirannya dalam bernyanyi dan bermain gitar, Sakti pun mendapat dukungan dari teman dekatnya sekaligus tetangganya yaitu Sinta. Sakti diajak gabung dengan band kakak kelasnya.
            Dihari kenaikan kelasnya Sakti dan group bandnya berlatih, dan latihannya pun memuaskan. Latihan selesai Sakti dan kawan-kawanpun berangkat ke sekolahnya, dan di sana Sakti sudah di tunggu oleh kakek dan neneknya yang akan menyaksikan cucu kesayangannya.
            Waktu yang ditunggu oleh Sakti dan group bandnya yaitu Rio, Indra, dan Ilham. Merekapun terpanggil dan naik ke panggung, lalu Sakti menengok ke belakang untuk melihat kakek dan neneknya, dan mereka pun senyum. Sakti dan bandnya sudah terlihat di panggung, dan penonton yang banyakpun melihatnya dan banyak yang mengejeknya, karena banyak yang menganggap itu adalah band amatiran yang baru lahir dan hanya ingin pamer dan juga menganggap Sakti itu bukanlah seseorang yang bisa beryanyi dan main gitar. Sakti yang sebagai vokalis mencoba menerima ejekan kawan-kawannya dan mencoba sabar, selain vokalis Sakti sekaligus sebagai gitaris, dan ada Ilham di keyboard, Indra di bass, dan Rio di drum.
            Tanpa banyak bicara lagi dan tidak ada cek sound karena mereka tampil ke empat, merekapun langsung memainkan alatnya masing-masing dan mereka menyanyikan lagunya sangat bagus. Semua penonton kaget terutama siswa SMP itu dan segan kepada mereka. Orang-orang pun berdatangan ingin menyaksikannya sehingga tempat itu menjadi penuh dengan penonton. Dan tidak menyangka bahwa mereka bisa membawakan lagu dengan bagus  yang dianggap orang lain itu susah karena memerlukan skill yang bagus.
            Pentas musikpun selesai Sakti puas dengan penampilan groupnya yang sangat memukau dan banyak yang mengagumi penampilannya.
            Hari sudah siang menjelang sore acara yang ditunggu oleh setiap siswa pun telah tiba yaitu pembagian buku laporan pendidikan beserta ijazah. Lalu  Sakti terpanggil sebagai juara kelas dan peringkat dua pada juara umum kelas IX, kakek dan neneknya sangat bangga atas prestasi yang di raih cucunya. Tapi Sakti tak sebangga kakek dan neneknya karena ia ingin menjadi juara umum satu, tapi Sakti tetap bersyukur atas apa yang didapatkannya. Dan tak lupa ia langsung menghubungi Ayah dan Ibunya  lewat telpon bahwa ia juara kelas dan di ijazah menyatakan LULUS.
            Semua acara di sekolah selesai Sakti pulang lebih sore dari Kakek dan Neneknya. Sakti yang pulang sendirian tiba-tiba di jalan ada segerombolan anak-anak sekolah yaitu kakak kelas Sakti yang sering disebut dengan genk Rock. Tiba-tiba Sakti dihadang langkah kakinya dan Sakti pun hanya diam dan heran, karena mau lari pun ia tidak bisa, lalu Sakti terus  berusaha melangkahkan kakinya karena ia tidak mau berbicara dengan orang itu dan dalam keadaan mabuk, namun anak gerombolan itu itu terus menghadang Sakti karena mereka tidak suka kepada Sakti dan mereka menganggap bahwa Sakti itu orangnya so pamer dan so jago dalam bermain musik dan merebut perhatian seluruh siswa terutama perempuan, padahal Sakti tidak seperti itu ia hanya ingin menyalurkan bakatnya saja dan sampai saat ini Sakti tidak pernah dekat dengan perempuan. Ia hanya dekat dengan Sinta dan itu pun hanya sebatas teman biasa tidak lebih. Namun, mereka tetap menyangka Sakti seperti itu. Saat itu Sakti terus dihadang untuk pulang. Sehingga Sakti  kesal dan berbicara
            “Mau kalian apa?” Teriak Sakti
              Jana yang memimpin gerombolan itu berbicara,
“punya nyali juga ini si culun. Heh banci tau kagak gue mau apa? Gue mau menghabisin looh, gue mau hajar looh.”seru Genk itu sambil memegang kerah bajunya Sakti.
Lalu tangan Jana pun melayang dengan tujuan menonjok Sakti, Namun Sakti bisa menghadang nya dan tangan Jana pun  berhasil tertangkap oleh Sakti dan di tarik tangan Jana sehingga Jana terjatuh, melihat Jana terjatuh muridnya beraksi dan menyerang Sakti, Sakti yang sudah menguasai ilmu pencak silat siap memasang kuda-kuda dan melawan satu persatu murid Jana dan semuanya kalah lalu Sakti segera lari namun Jana menyuruh kepada semua muridnya mengejarnya dan terkejar lah Sakti lalu Sakti berkelahi dengan orang pertama yang mengejarnya lalu Sakti mengalahkan nya dan terus melawan mereka yang berdatangan. Sakti pun merasakan kelelahan karena harus melawan 5 orang yang mengejar dan menghajarnya. Namun Sakti memenangkan pertempuran itu dan merekapun takluk kepada Sakti. Sakti pulang ke rumah dengan keadaan yang kotor dan melelahkan, tapi ia tiadak bercerita pada Kakek dan Neneknya dan untungnya Kakek dan Neneknya tidak mengetahuinya.
            Waktu demi waktu telah ia lalui dan tak terasa ia pun sudah SMA. Sakti  merasa bangga bisa hidup bersama Kakek dan Neneknya sudah sampai 3 tahun. Tapi Sakti sedih akan keadaan Kakeknya yang akhir-akhir ini sering sakit-sakitan.
            Satu bulan sudah kakeknya terbaring di tempat tidurnya namun ayah  Sakti belum mengetahuinya karena Kakeknya tidak mau merepotkan anak nya yang harus pulang pergi Tasik- Jakarta. Tapi sakit Kakek nya tidak kunjung membaik dan berobat pun sudah beberapa kali dan kakeknya memilih untuk berobat dirumah saja karena ia sudah pasrah kepada sang pencipta yang akan memberikan jalan terbaik pada dirinya karena ia sudah berusaha berobat namun kenyataannya seperti itu. Di setiap hari sepulang sekolah Sakti membantu Neneknya merawat Kakek dan mengerjakan pekerjaan Kakek dan Nenek. Sore hari Sakti menghubungi ayah dan ibu nya supaya bisa melihat Kakek besok karena kesehatan nya yang semakin memburuk.
            Pagi hari keluarga Sakti dari Jakarta menuju Tasik. Dan dipagi hari itu juga Sakti sebelum berangkat kakeknya selalu berpesan ketika ia mencium tangannya supaya rajin ibadah dan rajin belajar, dan jaga Nenek dan keluarga mu. Sakti pun berangkat sekolah dan selalu diselimuti kesedihan namun ia selalu ingat pesan kakeknya.
            Pulang sekolah Sakti yang melihat Neneknya menangis sambil memeluk kepala kakeknya yang berbaring di pahanya Sakti ikut menangis. Nenek berkata “Sakti cucuku sayang, tolong belikan segelas madu untuk kakekmu! Kakek menginginkan madu yang manis nak” Sakti pun segera mencari secangkir madu dan dengan segera Sakti kembali dengan membawakan secangkir madu dan diberikan kepada neneknya, neneknya pun memberikan dan membantu kakeknya untuk meminumkan sesendok madu dan nenek menyuruh kakek membuka mulutnya dan sambil berdo’a untuk kesembuhan kakeknya madu itu pun tidak sampai habis dan nenek sambil berbisik pelan kepada kakek bahwa kakek harus kuat dan tabah. Namun pada saat itu juga kakek menghembuskan nafas terakhirnya yang berada di pelukan Nenek. Sakti langsung memeluk kakek.
” Kakek kakek jangan tinggalin kami,Sakti sayang sama kakek” sambil menangis
Sakti dan nenek menangis karena kakek nya baru saja meninggalkanya untuk selamanya, saat itu juga Ayah dan Ibu,Tasya adik Sakti datang dan melihat anak nya dan ibunya menangis. kedua orang tua Sakti langsung meluk Ayah nya yang sudah tak bernyawa dipelukan Ibunya. Kesedihan pun menyelimuti keluarga Sakti.
            Jenazah kakek pun  diantar ketempat peristirahatan yang terakhir, karena pemakamannya tidak jauh dari tempat rumah, keluarga Sakti tak bisa menahan air mata yang terus mengalir, mereka pun mengikuti proses pemakaman, nenek tak tahan dengan kesedihan nenek pun jatuh pingsan dan Sakti pun tak bisa menahan air mata dan sakit hatinya di tinggal kakek tercinta sekaligus gurunya yang mengajarkan berbagai hal dalam kehidupan.
            Di setiap hari Sakti hanya bisa berdo’a dan mendo’akan Kakek nya dan jiarah ke makam nya. Dan Sakti berjanji akan menjalankan semua pesan kakek nya. Sakti pun tinggal bersama neneknya hingga sekarang dan selalu menjaga dan menyayangi neneknya.




MENENTUKAN SINOPSIS, UNSUR INTRINSIK DAN UNSUR EKSTRINSIK DALAM SEBUAH CERPEN  YANG BERJUDUL
AMANAT UNTUK SEBUAH CINTA

A.      Sinopsis/Ringkasan cerita
                 Sakti anak yang periang dan lucu yang masih duduk di kelas 6 SD dan ia tinggal di Jakarta Timur. Sakti yang sedikit nakal dan suka jail pada temannya, kakak kelasnya, apalagi kepada adik kelasnya. Di sekoilah Sakti mempunyai lima sahabat dekat yaitu , Andi, Zibran,Vino,Aldi dan Dani.
                 Setiap harinya, Sakti selalu menjaili teman-temannya karena itu memang kebiasaan anak ini. Beberapa tahun kemudian, Sakti lulus dari sekolah tersebut dan menghabiskan masa kanak-kanaknya bersama temannya di sekolah tersebut.
                 Suatu hari telah berakhir, saatnya Sakti berangkat ke Tasikmalaya yaitu kampung halaman kakek dan neneknya bersama Ayah, Ibu, dan Adiknya yaitu Tasya yang masih TK. Disana ia mulai hidup mandiri dan mencoba untuk beradaptasi dengan lingkungan tersebut.
                 Beberapa bulan kemudian, Sakti pun bias beradaptasi dengan lingkungan di kampung kakeknya dan juga dilingkungan sekolah barunya. Sakti  juga sudah mempunyai sahabat barunya yaitu Rio teman sekelasnya dan Sinta tetangga neneknya yang satu sekolah dengan Sakti. Disana, Sakti selalu mengaji bersama teman-teman barunya. Setelah mengaji, Sakti selalu membujuk kakeknya untuk mengajarkan ilmu pencak silat yang ia gemari. Kakeknya pun menurutinya. Dia belajar ilmu bela diri dengan penuh semangat sehingga cepat melekat dalam jati dirinya.
                 Tidak terasa tiga tahun berlalu, Sakti akan melanjutkan ke SMA. Seminggu sebelum kenaikan kelas dan perpisahan Sakti mendengar kabar bahwa di acara kenaikan kelas akan diadakan festival band. Ia pun mengikuti festival tersebut karena ia sudah mempunyai group band dengan teman-temannya yang lain. Hari kenaikan kelas pun tiba, kemudian Sakti dan group bandnya terpanggil untuk menjadi kontestan yang pertama. ia pun langsung naik ke atas panggung sementara kakek dan neneknya tersenyum melihat cucunya mengikuti festival tersebut. Setelah acara tersebut pembagian buku laporan pendidikan pun dibagikan beserta ijazah yang menyatakan bahwa ia LULUS.
                 Waktu demi waktu telah di lalui dan tak terasa ia sudah menginjak SMA. Sakti merasa bangga bisa hidup dengan kakek dan neneknya. Tetapi Sakti merasa sedih karena akhir-akhir ini kakeknya sering sakit-sakitan.
                 Satu bulan sudah kakeknya terbaring di tempat tidurnya namun Ayah Sakti belum mengetahuinya. Setiap pulang sekolah Sakti rajin membantu pekerjaan neneknya apalagi kakeknya sedang sakit. Ketika pulang sekolah, Sakti melihat neneknya sedang menangis. Ternyata kekeknya sudah menghembuskan nafas terakhirnya. Sakti dan Nenek Sakti pun menangis karena kakeknya telah tiada. Setelah mayat kakeknya dimakamkan ia selalu berdoa untuk keselamatan kakeknya diakhirat.

B.       Unsur Intrinsik
1.    Tema
 Adapun Tema dalam cerpen yang berjudul” Amanat untuk Sebuah Cinta” adalah Menceritakan Seorang cucu yang sangat menyayangi Kakek dan Neneknya.
2.   Karakter dan Karakerisasi
            Adapun karakter atau tokoh dalam cerita ini adalah sebagai berikut.
1)        Sakti                : jail, baik penurut, dan lucu
2)        Kakek              : baik, perhatian, penyayang, tegas, dan pendidik
3)        Nenek              : penyayang
4)        Ayah Sakti      : Perhatian dan baik
5)        Ibu Sakti          : perhatian dan baik
6)        Zibran              : jail dan nakal
7)        Vino                : jail dan nakal
8)        Dani                 : jail dan nakal
9)        Andi                : jail dan nakal
10)    Aldi                 : jail dan nakal
11)    Ilham               : baik
12)    Sinta                : baik
13)    Rio                   : baik              
14)    Adik                : penyayang
15)    Jana                 : jahat

3        Alur
Adapun Alur cerpen yang berjudul’’Amanat untuk Sebuah Cinta” yaitu alur maju dan tahapan-tahapannya adalah sebagai berikut.
3.1) Tahap perkenalan : halaman 1-2
3.2) Tahap perumitan : halaman  3-5
3.3) Tahap puncak    : halaman 6-8
3.4) Tahap peleraian : halaman 9-10
3.5) Tahap Akhir : halaman  11

Latar (Setting)
Latar dalam cerpen ini terbagi menjadi beberapa bagian diantaranya adalah sebagai berikut.
a.    Latar Tempat       : Di kota, kampung, ladang, Sekolah, jalan, panggung,                         dan kuburan.
b.    Latar Waktu        : beberapa tahun, sore hari, pagi hari, malam hari, dan              siang hari.
c.    Latar Suasana      : senang,gembira,terharu dan sedih.
d.   Latar Ruang            : Di kelas, rumah kakek, dan pesantren.
3.    Sudut Pandang
Adapun sudut pandang  yang digunakan oleh pengarang dalam cerpen ini menggunakan sudat pandang orang ketiga pelaku utama karena pengarang hanya menempatkan dirinya sebagai pencerita.


4.    Gaya Bahasa (Style)
Gaya penulisan dalam cerpen ini menggunakan bahasa yang tidak baku dan sehingga  mudah di mengerti.
5.    Amanat
Amanat dalam cerpen ini adalah sebagai berikut.
a.    Jangan mempunyai sifat egois dan pendendam.
b.    Cobalah mendengar nasihat orang lain.
c.    Jangan memepermainkan dan menyaikiti hati orang lain, karena mereka mempunyai perasaan.
d.   Lebih jujur daripada bohong walaupun kejujuran itu tidak selamanya baik.
e.    Jangan sombong pada potensi yang dimiliki


C.      Unsur Ekstrinsik
1.    Nilai Religi
a.    Tingkatkan keimanan dan ketakwaan kepada Allah Swt.
b.    Menyesali segala perbuatan yang telah kita lakukan di waktu dulu dengan cara memohon ampun kepada Allah Swt. 
2.    Nilai Moral
a.    Sifat pendendam dan egois dapat menjerumuskan pada penyesalan.
b.    Harus mendengarkan nasihat orang tua.

3.    Nilai Pendidikan
a.    Dengan rajin dan keuletan bias menjadikan murid berprestasi dan menjadi murid kebanggan sekolah.
b.    Bersainglah dengan sehat untuk mendapatkan prestasi.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar