Selasa, 23 Juni 2015
AMANAT UNTUK SEBUAH CINTA
Sakti anak yang periang
dan lucu yang masih duduk di kelas 6 SD dan ia tinggal di Jakarta Timur. Sakti yang
sedikit nakal dan suka jail pada temannya, kakak kelasnya, kepada adik
kelasnya, bahkan guru sekalipun sering kena ulah nya. Tetapi hal itu tidak
membuat orang-orang yang di sekitarnya membencinya, melainkan suka dan gemes
melihatnya, namun kadang-kadang juga jengkel padanya.
Sakti banyak disukai
teman-temannya, terutama teman perempuan dan kakak kelas perempuannya, karena
wajahnya yang lucu juga menggemaskan dan tingkahnya yang kadang-kadang membuat
orang ketawa.
Sakti di sekolah mempunyai
lima sahabat
dekat yaitu Vino, Andi, Zibran,Aldi dan Dani yang selalu bersama. Di sekolah, Sakti selalu menunjukan tingkahnya yang lucu dan
tidak wajar dan suka berkata yang biasa membuat orang lain ketawa, namun kadang
membuat orang jengkel dan marah. Kelima teman Sakti selalu mendukung apa yang dilakukan oleh Sakti karena
mereka dari sejak kecil hidup selalu
bersama.
Suatu hari Sakti asyik jail dengan
teman-temannya sampai-sampai semua teman di kelasnya kena ulah Sakti, karena kursi tempat
duduknya ditaburi serbuk yang bisa membuat orang gatal walaupun memakai pakaian
dan dengan sepintas serbuk itu tidak terlihat, dan mereka menempelkan premen
karet pada bagian bawah meja yang mengenai kaki, tidak ketinggalan kursi dan
meja guru pun di samakan dengan meja teman-temannya, bahkan papan tulis di curat coret dengan spidol permanen dan
setelah itu spidol dan penghapusnya semua disembunyikan.
Beberapa waktu
kemudian teman-teman nya merasakan keanehan dan semua menggaruk-garuk
pantatnya, dan supaya tidak dicurigai teman-temannya Sakti dan teman-temannya
ikut menggaruk-garuk sambil senyam-senyum. Lalu Bapak Guru pun masuk ke kelas itu, dan melihat
anak-anak semua mengaruk-garuk pantat, namun Bapak Guru menghiraukannya, dan melihat papan tulis
yang kotor Bapak guru pun menyuruh siswa menghapusnya, sesudah Bapak guru berbicara dengan cepat Sakti kedepan untuk
menghapusnya, padahal Sakti lah yang melakukannya. Sudah lima menit lamanya Sakti menghapus, Bapak guru heran kenapa Sakti tidak kembali ke bangkunya, tapi setelah dilihat ternyata papan tulis nya tidak bisa dihapus dan
ditambah Suasana
yang tambah gaduh semua siswa makin asyik menggaruk pantatnya masing-masing
bahkan Bapak
Guru pun sama mulai merasakan gatal di pantatnya, sampai pulang Suasana masih tetap dan Bapak guru pun membubarkan mereka.
Hari esok pun tiba
hari itu teman-teman sekelasnya marah pada Sakti dan kelima temannya karena ulahnya kemarin telah di ketahui bahwa mereka lah yang menjadi
biang keroknya. Bapak Guru pun mendengar berita bahwa Sakti dan kawan-kawannya lah yang melakukan semua
itu. Sakti
pun dipanggil bersama teman-temannya ke ruang guru dan ke ruang Kepala Sekolah dan mereka diberi peringatan supaya tidak melakukan hal yang merugikan
orang lain lagi, dan apabila itu terjadi mereka akan dipanggil orang tua nya
dan akan diskors.
Sakti pun mendengar
peringatan dari Bapak guru, namun hanya dua hari, setelah itu Sakti tetap melakukan hobi
jailnya, namun Sakti mengurangi jailnya
itu.
Beberapa tahun
kemudian Sakti lulus dari SD dan menghabiskan masa kanak-kanak nya bersama
teman-temannya di SD. Sakti sudah memasuki usia remaja tapi ia tetap masih menjalani hobi jailnya itu. Niat melanjutkan ke SMP pun Sakti sangat semangat dan
ia ingin melanjutkan ke SMP yang dekat dengan daerah ia tinggal, dan juga
rata-rata teman SD nya melanjutkan ke SMP itu. Namun sayangnya Sakti tidak
mendapat ijin dari orang tuanya karena sudah mengetahui kelakuan Sakti yang tidak membaik
malah bertambah buruk dan tambah
nakal, khawatir Sakti akan mudah terjerumus pada pergaulan yang
kurang baik. Disamping itu orang tua Sakti berniat akan menyekolahkan Sakti di kampung halaman
Kakek dan Neneknya supaya Sakti belajar mandiri dan belajar agama dan juga belajar membantu Kakek
dan Nenek nya agar Sakti menjadi anak
yang berbakti pada orang tua dan lebih bisa menghargai sesama terutama pada
orang tua. Namun Sakti menolak keinginan orang tuanya karena ia tidak ingin hidup
di kampung. Tapi Ibu Sakti tidak pernah putus asa dan terus membujuk anaknya supaya mau
menuruti ke inginan kedua orang tua nya. Dan akhirnya Sakti menuruti perintah ibunya karena itulah hal
terbaik untuk kedua orang tuanya dan juga dirinya sendiri dan akan menjadikan
dirinya lebih dewasa.
Satu hari sebelum
berangkat ke kampung Kakek dan Neneknya di Kota Tasikmalaya Jawa Barat Sakti meminta maaf kepada teman-temanya,
dan menemui kelima sahabatnya, mendengar hal itu sahabat-sahabatnya pun sedih tapi
Sakti tidak
mau hari perpisahannya diselimuti dengan tangisan sahabatnya, lalu Sakti pun mengajak
teman-temanya bermain dan menghabiskan waktu nya yang hanya satu hari lagi Sakti bersama
teman-temannya, dan mereka pun bersenang-senang dengan apa yang dilakukannya.
Besok harinya, Sakti pun berangkat ke Kota Tasikmalaya yaitu ke Rumah Kakek dan Neneknya
bersama Ayah, Ibu dan Adik perempuannya yang masih Sekolah TK, di perjalanan Sakti dan Keluarga berhenti di Rumah
Makan dan Keluarga pun memilih untuk memesan nasi TO(tutug oncom) yaitu makanan
khas Tasikmalaya dan Sakti sangat menikmati nasi TO tersebut,karena pertama
kalinya ia makan nasi TO. Setelah selesai makan Sakti dan keluarganya pun
melanjutkan perjalanannya yang sebentar lagi sampai. Sesampai di Tasikmalaya Sakti dan keluarganya
bertemu dengan Kakek dan Neneknya dan disambutlah mereka dengan senang hati dan
sudah ditunggu kedatangannya oleh kerabat-kerabatnya yang ada di sana, dan
Kakek juga Neneknya sangat senang karena melihat anak dan cucunya datang.
Satu minggu Ayah, Ibu dan Adik Sakti berlibur di sana
sambil menemani Sakti mencari Sekolah dan mendaftarkannya.
Satu minggu berlalu, Ayah dan Ibu beserta Adiknya akan
kembali ke Jakarta. Hari itu merupakan hari perpisahan dan hari itu hari yang
sangat menyedihkan bagi Sakti dan juga keluarga Sakti. Sampai tak sadar di
ujung matanya Sakti menetes air mata tidak tahan menahan
air mata dan ia memeluk Ayah dan Ibunya, Sakti pun menangis dipelukannya dan mengingat bahwa anak nya masih kecil sudah harus
berpisah dengan Ayah dan Ibunya, tapi hal itu untuk kebaikannya. Dan Adiknya pun
terus menangisi Sakti karena ia tak ingin berpisah dengan kakaknya, Adik Sakti berbicara pada Ibu
nya sambil menangis.
“ Ibu kakak ikut pergi ke Jakarta kan…? Ibu kenapa..?
Kenapa ibu dan kakak menangis…? Kakak..? Kakak mau pulang kan?” Tanya Tasya
Dan Sakti pun memeluk Adiknya yang menangisi Sakti.
“Adiku sayang jangan nangis
yah…!! Kakak
mau menemani Kakek dan Nenek dulu di sini sebentar kok dik...
“ Adikku yang cantik jaga
Ayah dan Ibu di sana yah !Dan awas kamu jangan nakal yah.”Jawab Sakti, sesudah Sakti berbicara pada Adiknya mobil pun dihidupkan
oleh Ayah Sakti dan itu tandanya sudah siap berangkat. Dan berangkat lah Ayah dan Ibu juga
Adik Sakti yang masih menjatuhkan air mata.
Beberapa bulan
kemudian Sakti pun bisa beradaptasi dengan lingkungan di kampung Kakeknya dan dan
juga di lingkungan Sekolahnya, Dan Sakti sudah mempunyai sahabat
barunya yaitu Rio teman sekelasnya dan Sinta tetangga Neneknya yang sekolah di sana. Dan merekalah yang
selalu bermain bersama. Di samping
bermain dan belajar Sakti tidak lupa dengan tujuan Ayah dan Ibunya untuk belajar, belajar dan belajar. Sekaligus membantu Kakek dan Neneknya mengolah lading,berkebun dan itu pun
selalu dilakukan dihari minggu dan
apabila sekolah libur.
Setelah tinggal di
kampung Neneknya, Sakti menjadi berubah menjadi lebih baik dan suka membantu dan terus belajar dan mempelajari apa yang ia inginkan. Suatu hari Sakti bercerita pada Kakeknya tentang hobinya, Sakti mempunyai dua hobi
yaitu musik dengan olahraga. Namun Sakti menginginkan olahraga pencak silat, dan kebetulan kakeknya adalah
atlet pencak silat kabupaten dimasa
mudanya. Namun harus berakhir kariernya, karena waktu itu kakek kecelakaan
yaitu jatuh dan menyebabkan pergelangan
tangan nya patah.
Disetiap malam
sesudah Sakti
mengaji di pesantren yang berada di
Tasikmalaya karena Kota Tasik adalah kota santri. Sakti selalu membujuk
kakeknya supaya ia bisa diberi ilmu pencak silat. Tapi Kakek Sakti hanya memberikan
amanat sebelumnya.
“Sakti, kakek bersedia
memberikan ilmu pencak silat tapi jangan dipakai untuk kesombongan dan harus berhati-hati.”seru Kakek
“Siap Kek” jawab Sakti dengan penuh
kesemangatan.
Sakti belajar ilmu
beladiri dari kakek nya dengan penuh semangat, dan cepat melekat dalam jati
dirinya karena merupakan bakat warisan dari sang kakek. Dan Sakti pun semakin mahir
dan menguasai jurus-jurus dari kakeknya. Di samping itu Sakti juga menjalankan
hobi keduanya yaitu main musik khusus nya gitar dan vokal. Dan Sakti pun terus berlatih
vokal dan gitar dengan rajin. Namun ia juga tidak melupakan pencak silat.
Tak terasa 3 tahun berlalu Sakti akan Perpisahan. Seminggu
sebelum perpisahan Sakti mendengar kabar
bahwa diacara kenaikan kelas dan perpisahan akan diadakan festival band, Sakti pun semangat karena ia ingin tampil untuk
pertama kalinya, karena ia sudah cukup mahir dalam bermain gitar dan bernyanyi
dari kursus yang dijalankannya itu, Dan karena ke ahlian dan kemahirannya dalam
bernyanyi dan bermain gitar, Sakti
pun mendapat dukungan dari teman dekatnya sekaligus tetangganya yaitu Sinta.
Sakti diajak gabung dengan band kakak kelasnya.
Dihari kenaikan kelasnya Sakti dan group bandnya
berlatih, dan latihannya pun memuaskan. Latihan selesai Sakti dan kawan-kawanpun
berangkat ke sekolahnya, dan di sana Sakti sudah di tunggu oleh kakek dan neneknya yang
akan menyaksikan cucu kesayangannya.
Waktu yang ditunggu
oleh Sakti
dan group bandnya yaitu Rio, Indra, dan Ilham. Merekapun terpanggil dan naik ke panggung, lalu Sakti menengok ke belakang
untuk melihat kakek dan neneknya, dan mereka pun senyum. Sakti dan bandnya sudah
terlihat di panggung, dan penonton yang banyakpun melihatnya dan banyak yang
mengejeknya, karena banyak yang menganggap itu adalah band amatiran yang baru lahir
dan hanya ingin pamer dan juga menganggap Sakti itu bukanlah seseorang yang bisa beryanyi dan
main gitar. Sakti yang sebagai vokalis mencoba menerima ejekan kawan-kawannya dan mencoba
sabar, selain vokalis Sakti sekaligus sebagai gitaris, dan ada Ilham di keyboard, Indra di bass, dan Rio di drum.
Tanpa banyak bicara
lagi dan tidak ada cek sound karena mereka tampil ke empat, merekapun langsung
memainkan alatnya masing-masing dan mereka menyanyikan lagunya sangat bagus. Semua penonton
kaget terutama siswa SMP itu dan segan kepada mereka. Orang-orang pun berdatangan
ingin menyaksikannya sehingga tempat itu menjadi penuh dengan penonton. Dan
tidak menyangka bahwa mereka bisa membawakan lagu dengan bagus yang dianggap orang lain itu susah karena
memerlukan skill yang bagus.
Pentas musikpun
selesai Sakti
puas dengan penampilan groupnya yang sangat memukau dan banyak yang mengagumi
penampilannya.
Hari sudah siang
menjelang sore acara yang ditunggu oleh setiap siswa pun telah tiba yaitu
pembagian buku laporan pendidikan beserta ijazah. Lalu Sakti terpanggil sebagai
juara kelas dan peringkat dua pada juara umum kelas IX, kakek dan neneknya
sangat bangga atas prestasi yang di raih cucunya. Tapi Sakti tak sebangga kakek
dan neneknya karena ia ingin menjadi juara umum satu, tapi Sakti tetap bersyukur atas
apa yang didapatkannya. Dan tak lupa
ia langsung menghubungi Ayah dan Ibunya
lewat telpon bahwa ia juara kelas dan di ijazah menyatakan LULUS.
Semua acara di
sekolah selesai Sakti pulang lebih sore dari Kakek dan Neneknya. Sakti yang pulang sendirian tiba-tiba di jalan ada segerombolan anak-anak
sekolah yaitu kakak kelas Sakti yang sering disebut dengan genk Rock. Tiba-tiba Sakti dihadang langkah kakinya dan Sakti pun hanya diam dan
heran, karena mau lari pun ia tidak
bisa, lalu Sakti terus berusaha melangkahkan
kakinya karena ia tidak mau berbicara dengan orang itu dan dalam keadaan mabuk,
namun anak gerombolan itu itu terus menghadang Sakti karena mereka tidak suka kepada Sakti dan mereka
menganggap bahwa Sakti itu orangnya so pamer dan so jago dalam bermain musik dan merebut
perhatian seluruh siswa terutama perempuan, padahal Sakti tidak seperti itu ia
hanya ingin menyalurkan bakatnya saja dan sampai saat ini Sakti tidak pernah
dekat dengan perempuan. Ia hanya
dekat dengan Sinta dan itu pun hanya sebatas teman biasa tidak lebih. Namun, mereka tetap menyangka Sakti seperti itu. Saat itu Sakti
terus dihadang untuk pulang. Sehingga Sakti kesal dan berbicara
“Mau kalian apa?” Teriak Sakti
Jana yang memimpin
gerombolan itu berbicara,
“punya nyali juga ini si culun. Heh banci tau kagak gue mau apa? Gue mau menghabisin looh, gue mau hajar looh.”seru Genk itu sambil memegang kerah bajunya Sakti.
Lalu tangan Jana pun melayang dengan tujuan menonjok Sakti, Namun Sakti bisa menghadang nya dan tangan Jana pun berhasil tertangkap oleh Sakti dan di tarik tangan Jana sehingga Jana terjatuh, melihat Jana
terjatuh muridnya beraksi dan menyerang Sakti, Sakti yang sudah menguasai ilmu pencak silat siap memasang kuda-kuda dan
melawan satu persatu murid Jana dan semuanya kalah lalu Sakti segera lari namun
Jana menyuruh kepada semua muridnya mengejarnya dan terkejar lah Sakti lalu Sakti berkelahi dengan
orang pertama yang mengejarnya lalu Sakti mengalahkan nya dan terus melawan mereka yang berdatangan. Sakti pun merasakan kelelahan
karena harus melawan 5 orang yang mengejar dan menghajarnya. Namun Sakti memenangkan
pertempuran itu dan merekapun takluk kepada Sakti. Sakti pulang ke rumah dengan keadaan yang
kotor dan melelahkan, tapi ia tiadak bercerita pada Kakek dan Neneknya dan untungnya Kakek dan Neneknya tidak
mengetahuinya.
Waktu demi waktu
telah ia lalui
dan tak terasa ia pun sudah SMA.
Sakti merasa
bangga bisa hidup bersama Kakek dan Neneknya sudah sampai 3
tahun. Tapi Sakti sedih akan keadaan Kakeknya yang akhir-akhir ini sering
sakit-sakitan.
Satu bulan sudah
kakeknya terbaring di tempat tidurnya namun ayah Sakti belum
mengetahuinya karena Kakeknya tidak mau merepotkan anak nya yang harus pulang
pergi Tasik-
Jakarta. Tapi sakit Kakek nya tidak kunjung membaik dan berobat pun sudah
beberapa kali dan kakeknya memilih untuk berobat dirumah saja karena ia sudah
pasrah kepada sang pencipta yang akan memberikan jalan terbaik pada dirinya
karena ia sudah berusaha berobat namun kenyataannya seperti itu. Di setiap hari
sepulang sekolah Sakti membantu Neneknya merawat Kakek dan mengerjakan pekerjaan Kakek dan Nenek. Sore hari Sakti menghubungi ayah dan ibu nya supaya bisa
melihat Kakek
besok karena kesehatan nya yang semakin memburuk.
Pagi hari keluarga Sakti dari Jakarta menuju Tasik. Dan dipagi hari itu
juga Sakti
sebelum berangkat kakeknya selalu berpesan ketika ia mencium tangannya supaya
rajin ibadah dan rajin belajar, dan jaga Nenek dan keluarga mu. Sakti pun berangkat sekolah
dan selalu diselimuti kesedihan namun ia selalu ingat pesan kakeknya.
Pulang sekolah Sakti yang melihat
Neneknya menangis sambil memeluk kepala kakeknya yang berbaring di pahanya Sakti ikut menangis. Nenek
berkata “Sakti cucuku sayang, tolong belikan
segelas madu untuk kakekmu! Kakek menginginkan madu yang manis nak” Sakti pun segera mencari secangkir madu dan dengan
segera Sakti
kembali dengan membawakan secangkir
madu dan diberikan kepada neneknya, neneknya pun memberikan dan membantu kakeknya untuk meminumkan
sesendok madu dan nenek menyuruh kakek membuka mulutnya
dan sambil berdo’a untuk kesembuhan kakeknya madu itu pun tidak sampai habis dan nenek
sambil berbisik pelan kepada kakek bahwa kakek harus kuat dan tabah. Namun pada saat itu juga kakek menghembuskan nafas terakhirnya yang berada
di pelukan Nenek. Sakti langsung memeluk kakek.
” Kakek kakek jangan
tinggalin kami,Sakti sayang sama kakek” sambil menangis
Sakti dan nenek menangis karena kakek nya
baru saja meninggalkanya untuk selamanya, saat itu juga Ayah dan Ibu,Tasya adik Sakti datang dan melihat anak nya dan ibunya
menangis. kedua orang tua Sakti langsung meluk Ayah nya yang sudah tak bernyawa dipelukan Ibunya.
Kesedihan pun menyelimuti keluarga Sakti.
Jenazah kakek pun diantar ketempat peristirahatan yang terakhir, karena pemakamannya tidak jauh dari tempat rumah, keluarga Sakti tak bisa menahan air mata yang terus mengalir, mereka pun mengikuti
proses pemakaman, nenek tak tahan dengan kesedihan nenek pun jatuh pingsan dan Sakti pun tak bisa menahan
air mata dan sakit hatinya di tinggal kakek tercinta sekaligus gurunya yang mengajarkan berbagai hal dalam
kehidupan.
Di setiap hari Sakti hanya bisa berdo’a
dan mendo’akan Kakek nya dan jiarah ke makam nya. Dan Sakti berjanji akan
menjalankan semua pesan kakek nya. Sakti
pun tinggal bersama neneknya hingga sekarang dan selalu
menjaga dan menyayangi neneknya.
MENENTUKAN SINOPSIS, UNSUR
INTRINSIK DAN UNSUR EKSTRINSIK DALAM SEBUAH CERPEN YANG BERJUDUL
“AMANAT
UNTUK SEBUAH CINTA”
A. Sinopsis/Ringkasan
cerita
Sakti anak yang periang
dan lucu yang masih duduk di kelas 6 SD dan ia tinggal di Jakarta Timur. Sakti yang sedikit nakal dan suka jail pada
temannya, kakak kelasnya, apalagi kepada adik kelasnya. Di sekoilah Sakti mempunyai lima sahabat dekat yaitu ,
Andi, Zibran,Vino,Aldi dan Dani.
Setiap
harinya, Sakti selalu menjaili teman-temannya karena itu memang kebiasaan anak ini.
Beberapa tahun kemudian, Sakti lulus dari sekolah tersebut dan menghabiskan masa kanak-kanaknya
bersama temannya di sekolah tersebut.
Suatu
hari telah berakhir, saatnya Sakti berangkat ke Tasikmalaya yaitu kampung halaman kakek dan neneknya bersama Ayah, Ibu, dan Adiknya yaitu Tasya yang masih TK. Disana ia mulai hidup
mandiri dan mencoba untuk beradaptasi dengan lingkungan tersebut.
Beberapa
bulan kemudian, Sakti pun bias beradaptasi dengan lingkungan di kampung kakeknya dan juga dilingkungan
sekolah barunya. Sakti juga sudah mempunyai sahabat
barunya yaitu
Rio teman
sekelasnya dan Sinta tetangga neneknya yang satu sekolah dengan Sakti. Disana, Sakti selalu mengaji
bersama teman-teman barunya. Setelah mengaji, Sakti selalu membujuk kakeknya untuk mengajarkan
ilmu pencak silat yang ia gemari. Kakeknya pun menurutinya. Dia belajar ilmu
bela diri dengan penuh semangat sehingga cepat melekat dalam jati
dirinya.
Tidak
terasa tiga
tahun berlalu, Sakti akan melanjutkan ke SMA. Seminggu sebelum kenaikan kelas dan perpisahan Sakti mendengar kabar bahwa di acara kenaikan kelas akan diadakan festival
band. Ia pun mengikuti festival tersebut karena ia sudah mempunyai group band
dengan teman-temannya yang lain. Hari kenaikan kelas pun tiba, kemudian Sakti dan group bandnya
terpanggil untuk menjadi kontestan yang pertama. ia pun langsung naik ke atas panggung
sementara kakek dan neneknya tersenyum melihat cucunya mengikuti festival
tersebut. Setelah acara tersebut pembagian buku laporan pendidikan pun
dibagikan beserta ijazah yang
menyatakan bahwa ia LULUS.
Waktu
demi waktu telah di lalui dan tak terasa ia sudah menginjak SMA. Sakti merasa bangga bisa
hidup dengan kakek dan neneknya. Tetapi Sakti merasa sedih karena akhir-akhir ini kakeknya
sering sakit-sakitan.
Satu
bulan sudah kakeknya terbaring di tempat tidurnya namun Ayah Sakti belum mengetahuinya.
Setiap pulang
sekolah Sakti
rajin membantu pekerjaan neneknya apalagi kakeknya sedang sakit. Ketika pulang sekolah, Sakti melihat neneknya
sedang menangis. Ternyata kekeknya sudah menghembuskan nafas terakhirnya. Sakti dan Nenek Sakti pun menangis karena kakeknya telah
tiada. Setelah mayat kakeknya dimakamkan ia selalu berdo’a untuk keselamatan
kakeknya diakhirat.
B.
Unsur Intrinsik
1.
Tema
Adapun Tema dalam cerpen yang
berjudul” Amanat untuk Sebuah Cinta” adalah Menceritakan Seorang cucu yang sangat menyayangi
Kakek dan Neneknya.
2.
Karakter dan Karakerisasi
Adapun karakter atau tokoh dalam
cerita ini adalah sebagai berikut.
1)
Sakti : jail, baik
penurut, dan lucu
2)
Kakek : baik, perhatian,
penyayang, tegas, dan pendidik
3)
Nenek : penyayang
4)
Ayah Sakti : Perhatian dan baik
5)
Ibu Sakti : perhatian dan baik
6)
Zibran : jail dan nakal
7)
Vino : jail dan nakal
8)
Dani : jail dan nakal
9)
Andi : jail dan nakal
10)
Aldi : jail dan
nakal
11)
Ilham : baik
12)
Sinta : baik
13)
Rio : baik
14)
Adik : penyayang
15)
Jana : jahat
3
Alur
Adapun
Alur cerpen yang berjudul’’Amanat untuk Sebuah Cinta” yaitu alur maju dan
tahapan-tahapannya adalah sebagai berikut.
3.1)
Tahap perkenalan : halaman 1-2
3.2)
Tahap perumitan : halaman 3-5
3.3)
Tahap puncak : halaman 6-8
3.4)
Tahap peleraian : halaman 9-10
3.5)
Tahap Akhir : halaman 11
Latar (Setting)
Latar dalam cerpen ini
terbagi menjadi beberapa bagian diantaranya adalah sebagai berikut.
a.
Latar Tempat : Di kota, kampung, ladang, Sekolah, jalan, panggung, dan kuburan.
b.
Latar Waktu : beberapa tahun, sore hari, pagi hari, malam hari,
dan siang hari.
c.
Latar Suasana : senang,gembira,terharu dan sedih.
d.
Latar Ruang : Di kelas,
rumah kakek, dan pesantren.
3.
Sudut Pandang
Adapun
sudut pandang yang digunakan oleh pengarang dalam cerpen ini menggunakan sudat
pandang orang ketiga pelaku utama karena pengarang hanya menempatkan dirinya
sebagai pencerita.
4.
Gaya Bahasa (Style)
Gaya
penulisan dalam cerpen ini menggunakan bahasa yang tidak baku dan sehingga mudah di mengerti.
5.
Amanat
Amanat
dalam cerpen ini adalah sebagai berikut.
a.
Jangan mempunyai sifat egois
dan pendendam.
b.
Cobalah mendengar nasihat orang
lain.
c.
Jangan memepermainkan dan
menyaikiti hati orang lain, karena mereka mempunyai perasaan.
d.
Lebih jujur daripada bohong
walaupun kejujuran itu tidak selamanya baik.
e.
Jangan sombong pada potensi yang dimiliki
C.
Unsur Ekstrinsik
1.
Nilai Religi
a.
Tingkatkan keimanan dan
ketakwaan kepada Allah Swt.
b.
Menyesali segala perbuatan yang
telah kita lakukan
di waktu dulu dengan cara memohon ampun kepada Allah Swt.
2.
Nilai Moral
a.
Sifat pendendam dan egois dapat
menjerumuskan pada penyesalan.
b.
Harus mendengarkan nasihat
orang tua.
3.
Nilai Pendidikan
a.
Dengan rajin dan keuletan bias
menjadikan murid berprestasi dan menjadi murid kebanggan sekolah.
b.
Bersainglah dengan sehat untuk mendapatkan
prestasi.
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar